Yang Tidak Dilupakan


(1)
Setiap kali ibu  berjalan dengan suami, setiap saat kaki ibu selalu titajong atau tersandung, untung bapak selalu menolong, dan ibu selalu melihat kebelakang  melihat benda apa sih yang mengakibatkan kaki tersandung, dan tidak pernah melihat benda apapun . Kemudian suatu saat ibu bercerita kepada seorang pembina haji 
“ Pa saya kalau berjalan dengan suami selalu saja tersandung, padahal tidak ada apa2”
Kata beliau  : “ Ibu bacalah  istigfhar karena mungkin ibu banyak salah pada suami “ 
Ibu pun membaca istigfhar dan  minta maaf pada bapak barangkali Ibu mempunyai kesalahan yang belum beliau maafkan, dan alhamdullilah ibu pun tidak terlalu banyak kesandung lagi, walaupun sekali2 suka juga.
(2)
Suatu ketika waktu di Medinah, kita akan pergi sholat ke masjid Nabawi di depan pemondokan kita bertemu dengan teman sesama jemaah yang sedang duduk - duduk, ketika ditanya
“ Pa Haji Asep nggak pergi ke masjid , sholat dzuhur ?” kata bapak,  dan jawabnya adalah
“ Nggak ah panas takut sakit “ katanya
eeeeeehhh, besoknya dia betul-betul sakit,  jatuh dari kursi dan kakinya keseleo berat, sehingga pakai tongkat, dan ternyata apa yang Haji Asep takutkan yaitu sakit, ternyata menjadi sakit betulan sehingga tidak bisa pergi ke masjid ataupun ketempat lainnya.
(3)
Ketika kami berhaji tahun 1998, pengalaman kami lain lagi, waktu itu ibu pergi berdua Ibu Emi untuk shalat di Masjidiill haram, di kamar sebelumnya Ibu Emi didepan ibu-ibu lainnya kentut (buang angin ) keras banget. Setelah itu saya berdua bu Emi pergi untuk shalat maghrib ke masjid ,ketika berjalan dengan saya di halaman masjid tiba-tiba ada orang Arab yang sedang berjalan didepan kami buang angin keras sekali pas didepan bu Emi. Ya Allah ternyata balasan untuk perbuatan tidak sopan itu tidak usah menunggu terlalu lama, langsung mendapat balasannya
(4)
Fildzah cucuku yang kedua, lucu dan cantik (kata neneknya) .. umurnya baru 5 tahun, baru TK A,
suatu hari bilang,
 "mbu aku mau ke Istana Presiden sama bu guru dan temen aku yah "...
terus mereka pergi dengan semangat diantar ibu sama ayahnya. Tapi waktu sampai disana dia kecewa banget, karena dalam bayangannya yang namanya istana itu adalah istana seperti istana raja dalam negeri dongeng. ada menara-menaranya.. ada penjaganya, ini kok enggak yah
Kemudian karena harus menunggu lama untuk bisa masuk istana, karena ada protokoler yang harus dipenuhi, maka anak-anak diajak pulang saja , karena anak-anak sudah penuh keringat, mana hujan lagi, tapi Fildzah nggak mau pulang!
"nanti dulu aku mo lihat bapak sama ibu ratu dulu" katanya.
jadi dalam pikirannya di istana presiden itu ada ibu ratu dan bapak raja
pake baju ala cerita-cerita dongeng, hihihihihihi dasarrr yah.. namanya jg anak-anak!
(5)
Di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, Adinda ditanya oleh bu guru ..
" Adinda, kalau shalat ada berapa waktu ?"
" Dua waktu, Bu Guru.."
" Lho! kok dua sih ?!"
" Mami.. kalau shalat kan 2 kali bu guru, pagi dan sore"   uppsss!!!!
(6)
“BELAJAR SHOLAT”
Sekali waktu .. Fildzah bercerita tentang yang dipelajarinya di sekolah,
"Kemarin aku belajar shalat sama bu guru.... kata bu guru, sholat itu khan nelpon Allah.. nomornya 24434.. trus kata temen aku, Hadan, dia nelpon Allah .. mo minta mobil balap! trus katanya, kok bunyinya tulaliiit.. tulaaliiiit..."
hehehehehe
Jadi pada intinya, setiap anak yang dilahirkan ibarat kertas putih yang siap untuk ditorehkan oleh pena. semua orang tua pasti ingin menorehkan pena kebaikan untuk anak-anaknya. oleh sebab itu, setiap perilaku orang tua akan menjadi contoh buat anak-anaknya. jadi berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan.. karena mereka itu adalah titipan Allah yang harus kita bina, dengan pendidikan agama yang cukup, akhlak dan budi pekerti yang baik. Mudah-mudahan Allah SWT selalu melindungi keluarga kita. Amiin..





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makanan Favourit Keluarga

Terbongkarnya Rahasia