" Raudah "
Mengunjungi Raudoh kali ini , adalah
pada waktu umroh bersama keluarga ( 11 orang), anak2, mantu dan cucu, dalam
rangka travelling keluarga.
Pada saat mengunjungi Raudoh , karena
para kaum laki2 bisa setiap saat mengunjungi makam Nabi , maka untuk kaum
perempuan ada waktunya, itu juga dengan berdesak2an , bisa masuk kalau askar
perempuan mengijinkan.
Maka dibuatlah perjanjian dengan
muthowif perempan ,jam berapa kita akan pergi, karena anak2 perempuan tidak
mungkin pergi, karena factor suasana jemaah yang penuh sesak maka yang pergi
hanya, Ibu , Tiya dan Maya saja. Itu juga sudah malam sesudah shalat isya,
menunggu bubaran sholat isha dan bapak2 sudah dikamar, bergantian nunggu anak2.
Kurang lebih jam 21-00 , sesudah
makan malam, Ibu bertiga menuju Lobby Hotel dan sudah ditunggu pak Ustadz ,
ketemulah dengan muthowif wanita. Kemudian setelah melihat kondisi ibu, dia
menyarankan :
“Ibu pakai kursi roda saja, nanti
saya dorong, maka masuknya akan lebih mudah”kata muthowif
“Ibu masih bisa jalan , gak apa2 gak
usah pake kursi roda” kata ibu
“Enggak ibu, nanti kita ngantri di
jalur kursi roda, biasanya akan didahulukan dibandingkan yang ngantri dan pada
sehat” katanya
Anak2 juga mendukung, baiklah ibu
naik kursi roda, dan pak ustadz juga nyari kursi roda, dan dapat dua kursi roda,
yang satu tempat kakinya patah , jadi ibu pakai yang lebih bagus.
Kemudian ibu pakai kursi roda
didorong muthowif mulai dari hotel mula, suasana di perjalanan dari depan hotel
sampai depen mesjid menuju ke pintu 7 masih penuh jamaah , apalagi banyak yang
baru pulang sholat isya.
Sampailah kita ke pintu masuk dan
masuklah dengan duduk di kursi roda, didalam ternyata ada jalan untuk pengguna
kursi roda , dengan ditandai dengan karpet merah, kalau diukur berjejer bersebelahan
lebarnya bisa untuk 3 kursi roda, panjangnya sampai kedepan raudoh. Kemudian
kita masuk ke jalan yang berkarpet tersebut mengantri bersama pengguna kursi
roda lainnya, banyak sekali orang berkursi roda , masuknya bergantian dan
mengantri , tidak gampang, kita jalan baru beberapa meter sudah berhenti
menunggu giliran, Tiya dan Maya ngikutin kursi roda ibu, harusnya tidak boleh .
karena satu kursi roda hanya boleh satu pendamping yang mendorong kursi roda
saja. Kata muthowifnya sudah ikut saja nanti kalau ditanya pura2 lagi hamil
saja katanya.
Jalan menuju makam Nabi, dijaga
askar2 , pengunjungnya mengantri berbondong bonding supaya bisa sholat di
raudah itu jumlahnya ribuan orang, dari
seluruh dunia, mereka yang menunggu duduk di karpet berdasarkan negaranya.
Kalau datang gilirannya askar akan membuka jalan yang dibatasi kain atau tali,
dengan berteriak “Indonesiaaaaa” atau “Malaysiaaaa” tergantung gilirannya,
kemudian ibu2 tersebut berdiri berlariiii semuanya menuju pintuu yang dibuka,
serentak berrrr.
Tapi sistim kenalan juga berlaku
disini, untuk warga sebangsanya biasanya
suka didahulukan oleh mereka.Yang ngantri2, dikelompokkan per Negara , satu kelompok lebih dari 100 orang, mereka
duduk di karpet 2 di depan raudah. Menunggu dengan sabar , mengantri di
tungguin m,othowifnya masing2.
Antrian kursi roda apalagi panjang
banget , menunggu giliran masuk , ketika giliran rombongan kursi roda dipanggil
askar, Ya Allah , dengan mendorong kursi roda kita seperti berlomba dulu2an
masuk kedalam suatu ruangan yang tetap dijaga askar, disitu kita disuruh nunggu
lagi untuk bergiliran masuk ke raudoh.Beratus kursi roda dengan orang2 tua yang
sakit atau gak bisa jalan orang2 jompo , yang semuanya ingin sholat di karpet hijau depan raudoh.
Kira kira jarak 100 meteren lagi ke
raudah, muthowif mengajak ibu turun dari kursi roda , lalu berjalan menuju
raudah, dan ternyata disitu pertemanan terlihat sekali, jadi kita bisa masuk
langsung ke raudah dan bisa sholat di karpet hijau dengan dijaga muthowif.
Disitu kita masih berjuang , karena
banyak jemaah lainnya berdesak desakan ingin sholat disitu berdesakan , ada
juga yang sampai mengumpat karena terdorong ataupun didorong jemaah lainnya.
Tapi Alhamdulillah berkat muthowif yang menjaga kita, kita bisa sholat dengan
leluasa di depan makam Nabi Muhammad saw. Dengan leluasa.Setelah selesai, kita
menuju jalan yang tadi, mengambil lagi kursi roda yang ditinggalkan, dan
ternyata masih banyak dan panjang sekali antrian kursi roda yang menuju raudoh,
mereka setia menunggu giliran’
Komentar
Posting Komentar